Kerusakan Saraf Penyebab Nyeri & Mati Rasa TRIBUNNEWSWIKI – Mengenal Neuropati Perifer

<div ><div id='InformasiAwal'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Neuropati perifer adalah kerusakan pada saraf perifer yang sering menyebabkan gejala kelemahan, mati rasa dan nyeri, dan biasanya di tangan dan kaki. Hal ini dapat memengaruhi bagian lain dari tubuh.

Neuropati perifer dapat terjadi akibat cedera traumatis, infeksi, masalah metabolisme, faktor turunan, dan paparan toksin. Salah satu penyebab paling umum adalah diabetes melitus. <div ><div id='Penyebab'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div>

Neuropati perifer bukan penyakit tunggal, melainkan kerusakan saraf yang disebabkan oleh sejumlah kondisi. Kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan neuropati perifer, antara lain: Penyakit autoimun, seperti sindrom Sjorgen, lupus, rheumatoid arthritis, sindrom Guillan Barre, radang kronis demielinasi polineuropati, dan vaskulitis.

Diabetes. Lebih dari setengah pengidap diabetes mengembangkan beberapa jenis neuropati. Infeksi, baik oleh virus atau bakteri, seperti penyakit Lyme, herpes zoster, virus Epstein Barr, hepatitis B dan C, kusta, difteri, dan HIV. Gangguan bawaan, seperti penyakit Charcot Marie Tooth.

Tumor. Pertumbuhan tumor ganas dan jinak dapat berkembang pada saraf atau saraf tekan. Gangguan sumsum tulang, seperti protein abnormal dalam darah, suatu bentuk kanker tulang (myeloma), limfoma, dan amiloidosis. Penyakit lainnya, seperti penyakit ginjal, penyakit hati, gangguan jaringan ikat dan tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme).

<div ><div id='Gejala'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Tanda dan gejala neuropati perifer termasuk mati rasa yang dialami secara bertahap, rasa tusukan atau kesemutan di kaki atau tangan, yang dapat menyebar ke atas ke kaki dan tangan, rasa berdenyut, beku atau rasa sakit terbakar, sensitivitas ekstrem ketika disentuh, kurang koordinasi dan sering terjatuh, kelemahan otot atau kelumpuhan jika saraf motorik terpengaruh. Jika saraf otonom yang terganggu, tanda dan gejala dapat berupa intoleransi panas dan perubahan keringat, masalah kandung kemih dan pencernaan, serta perubahan tekanan darah yang menyebabkan pusing atau kepala terasa ringan.

Neuropati perifer bisa dibagi menjadi tiga jenis, yaitumononeuropathyyang memengaruhi satu saraf,multiple mononeuropathy(kerusakan terjadi pada dua atau lebih saraf di area yang berbeda), danpolyneuropathy(kerusakan terjadi pada banyak saraf). Kebanyakan orang dengan neuropati perifer memilikipolyneuropathy. <div ><div id='PengobatandanPencegahan'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div>

Selain untuk mengobati kondisi yang terkait dengan neuropati perifer, pengobatan yang diberikan biasanya juga berguna untuk meredakan tanda dan gejala neuropati perifer, antara lain seperti obat anti nyeri untuk meredakan gejala. Selain itu, dapat digunakan obat antikejang guna mendapatkan efek meredakan nyeri yang bersifat neurogenik. Perawatan topikal yang juga bisa diberikan adalah krimcapsaicin, yang mengandung zat yang ditemukan dalam cabai, yang dapat membantu mengatasi gejala neuropati perifer.

Lidocaine patchadalah perawatan lain yang dapat diterapkan pada kulit menimbulkan efek pereda nyeri. Antidepresan trisiklik tertentu telah ditemukan dapat membantu meredakan nyeri dengan mengganggu proses kimia di otak dan sumsum tulang belakang yang menyebabkan merasakan sakit secara berat. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengatasi kondisi yang mendasarinya, seperti diabetes, alkoholisme, atau rheumatoid arthritis.

Setelah itu, pengidap juga dapat mencegah dengan menerapkan gaya hidup sehat, contohnya konsumsi diet kaya buah buahan, sayuran, biji bijian, dan protein tanpa lemak untuk menjaga kesehatan saraf. Pencegahan kekurangan vitamin B12 dengan mengonsumsi daging, ikan, telur, makanan rendah lemak, dan serat pangan yang cukup. Lalu, olahraga secara teratur setidaknya 30 menit hingga satu jam latihan tiga kali seminggu.

Terakhir, mencegah gerakan yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, termasuk gerakan berulang, posisi kaku, paparan bahan kimia beracun, merokok dan terlalu banyak mengonsumsi alkohol. <div >

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *